Terima kasih
Aku tiba di Medan setelah seminggu menginap di rumah
orangtuaku di Bandung. Tetapi aku harus dititipkan ke tempat orangtua mantan
kekasihku (si Nanda) yang siap merawatku setahun kedepan sampai aku lulus UN.
Ya, di kota ini aku tinggal sendiri, tanpa mama, kakak dan saudaraku. Entah
mengapa mama menitipkanku di tempat ini. Walau sebenarnya aku bahagia, namun
serasa tiada guna bila my first love bukan milikku lagi. Ah! Dasar masa lalu!
Mungkin, aku belum terbiasa hidup bersama orang lain, apalagi bersama orang yang kucintai saat ini. Tetapi aku patut bersyukur pada Tuhan, dengan begini percobaanku untuk hidup seperti Nanda akan seutuhnya tercapai. Sekarang aku tak tau malam ini aku harus tidur dimana dan mungkin Nanda tak menyukaiku tinggal disini.
Aku tahu diri sebagai orang lain di rumah Nanda, aku harus mulai membiasakan diri memulai segala sesuatu.
“E… Nanda…. Aku boleh nanya sesuatu gak?” kataku seraya duduk di sampingnya tepat saat dia berhadapan dengan laptopnya.
“Boleh…” sahutnya tanpa menolehku.
“Kok kamu bisa pinter banget? Resepnya apa? Aku sudah berusaha loh untuk berubah, mencoba mandiri dan tekun dalam belajar, aku ingin sepertimu, aku tak ingin lagi menyia-nyiakan waktuku” Sebenarnya aku basa-basi nanya soal ini. Aku tak tahu harus mulai darimana. Lagian daritadi aku di di anggurin saja, mending di apelin mumpung malam minggu begini kan seru. Hahaha!
“Ya sudah belajar sana!” sambungnya beberapa detik.
“Kamu gak suka aku tinggal disini ya?”
“Kalaupun aku gak suka, ini rumah orangtuaku, terserahnya mau gimana!”
“Kamu bilang aja, kalau kamu gak suka aku bisa pergi kok!”
“Mau kemana kamu? Sok berani! Nanti juga nangis di jalan, atau gak pingsan atau ketakutan!”
Dasar sialan! Anak super nyebelin! Arggh!!! Lihat saja, setelah bagi rapot ini, aku bakal pergi kok dari rumah ini! Entah mengapa dia hafal sekali tingkahku. Padahal aku dan dia sudah berpisah 2 tahun yang lalu. Tapi masih saja ingat. Apa sih isi otaknya???? Sudah dua tahun juga, masih saja di ingat-ingat.
“Nanda, aku sudah berubah, setahun setelah kita berpisah. Aku hanya membutuhkan sedikit motivasi. Aku bukan lagi seperti dulu Nanda. Tolonglah lihat aku!” (kata hatiku).
Mungkin, aku belum terbiasa hidup bersama orang lain, apalagi bersama orang yang kucintai saat ini. Tetapi aku patut bersyukur pada Tuhan, dengan begini percobaanku untuk hidup seperti Nanda akan seutuhnya tercapai. Sekarang aku tak tau malam ini aku harus tidur dimana dan mungkin Nanda tak menyukaiku tinggal disini.
Aku tahu diri sebagai orang lain di rumah Nanda, aku harus mulai membiasakan diri memulai segala sesuatu.
“E… Nanda…. Aku boleh nanya sesuatu gak?” kataku seraya duduk di sampingnya tepat saat dia berhadapan dengan laptopnya.
“Boleh…” sahutnya tanpa menolehku.
“Kok kamu bisa pinter banget? Resepnya apa? Aku sudah berusaha loh untuk berubah, mencoba mandiri dan tekun dalam belajar, aku ingin sepertimu, aku tak ingin lagi menyia-nyiakan waktuku” Sebenarnya aku basa-basi nanya soal ini. Aku tak tahu harus mulai darimana. Lagian daritadi aku di di anggurin saja, mending di apelin mumpung malam minggu begini kan seru. Hahaha!
“Ya sudah belajar sana!” sambungnya beberapa detik.
“Kamu gak suka aku tinggal disini ya?”
“Kalaupun aku gak suka, ini rumah orangtuaku, terserahnya mau gimana!”
“Kamu bilang aja, kalau kamu gak suka aku bisa pergi kok!”
“Mau kemana kamu? Sok berani! Nanti juga nangis di jalan, atau gak pingsan atau ketakutan!”
Dasar sialan! Anak super nyebelin! Arggh!!! Lihat saja, setelah bagi rapot ini, aku bakal pergi kok dari rumah ini! Entah mengapa dia hafal sekali tingkahku. Padahal aku dan dia sudah berpisah 2 tahun yang lalu. Tapi masih saja ingat. Apa sih isi otaknya???? Sudah dua tahun juga, masih saja di ingat-ingat.
“Nanda, aku sudah berubah, setahun setelah kita berpisah. Aku hanya membutuhkan sedikit motivasi. Aku bukan lagi seperti dulu Nanda. Tolonglah lihat aku!” (kata hatiku).
***
Keputusanku sudah bulat, aku gak mau lagi tinggal disini. Tapi entah mengapa bayang wajah mama menari-nari di kepalaku. Aku takut mama kepikiran tentangku, kalau nanti bunda Nana (ibunya Nanda) bilang ke mama bisa gawat! Aduh! Tapi………… Gimana dengan Nanda? Kalau aku ketemu dengannya bagaimana? Kalau sebentar lagi dia pulang dan bertemu lagi denganku bagaimana? Ya sudahlah.. Sepertinya aku harus mengirim surat, tapi kesannya mendramatisir. Kalau di ketawain oleh Nanda bagaimana? Kalau nanti Nanda cuek saja bagaimana? (Kebanyakan mikir, mau kabur aja susah amat ya???)
Kucoba berjalan keluar dari pintu belakang, sepertinya bunda Nana sedang keluar. Tapi gubrakkk! Dasar sial, aku malah menabrak Nanda sampai pingsan gara-gara kepalanya kebentur tembok.
“Nanda……….” Aku berharap Nanda sadar, tapi dia tetap tak sadarkan diri. Sebagai manusia yang berperikemanusiaan, aku harus bertanggung jawab atas kesalahanku. Aku harus merawatnya sampai dia sembuh. Huh!
Keputusanku sudah bulat, aku gak mau lagi tinggal disini. Tapi entah mengapa bayang wajah mama menari-nari di kepalaku. Aku takut mama kepikiran tentangku, kalau nanti bunda Nana (ibunya Nanda) bilang ke mama bisa gawat! Aduh! Tapi………… Gimana dengan Nanda? Kalau aku ketemu dengannya bagaimana? Kalau sebentar lagi dia pulang dan bertemu lagi denganku bagaimana? Ya sudahlah.. Sepertinya aku harus mengirim surat, tapi kesannya mendramatisir. Kalau di ketawain oleh Nanda bagaimana? Kalau nanti Nanda cuek saja bagaimana? (Kebanyakan mikir, mau kabur aja susah amat ya???)
Kucoba berjalan keluar dari pintu belakang, sepertinya bunda Nana sedang keluar. Tapi gubrakkk! Dasar sial, aku malah menabrak Nanda sampai pingsan gara-gara kepalanya kebentur tembok.
“Nanda……….” Aku berharap Nanda sadar, tapi dia tetap tak sadarkan diri. Sebagai manusia yang berperikemanusiaan, aku harus bertanggung jawab atas kesalahanku. Aku harus merawatnya sampai dia sembuh. Huh!
***
Akhirnya aku lulus SMA, itu saatnya aku berpisah dengan Nanda. Rasanya aku tak ingin kehilangannya. Kenanganku bersamanya selama setahun tinggal satu atap dengannya. Serasa bagai bunga layu yang berusaha untuk tetap hidup. Inilah aku saat ini. Tetapi selama setahun ini mengapa senyum Nanda yang aku tunggu tak kunjung mekar. Aku hanya minta satu yaitu ‘SENYUM’ darinya sambil berkata ‘Ternyata Tiara sudah berubah’. Ah tidak mungkin!
Nanda belum juga pulang, padahal dia tahu bahwa pagi ini aku akan berangkat ke Bandung. Apa dia tak ingin melihatku untuk yang terakhir kalinya? Apa dia benar-benar membenciku? Tuhan, untuk kali ini saja izinkan aku mengalirkan embun di pelupuk mataku di hadapan Nanda untuk yang terakhir kalinya. Ingin sekali ku memeluknya, menyapu tinta rindu yang telah lama tersimpan di kalbu. Serasa sesak tak kunjung terbuang. Apalah daya bila yang di sayang tak tahu di sayang.
“Bunda, terimakasih atas kasih sayang bunda selama setahun ini, sekarang Tiara sudah lulus SMA, Tiara harus kembali ke Bandung dan melanjutkan kuliah disana!” Aku mencium tangan bunda Nana sambil nangis terisak. Bunda Nana pun mengikuti alunan isak tangisku seraya memelukku seperti tak ingin berpisah dariku.
“Tiara anak bunda, bunda sayang sama kamu seperti bunda sayang sama Nanda dan anak kandung bunda yang lainnya, bunda harap Tiara jadi anak yang sukses kelak nanti. Bunda sayang sama Tiara.”
“Terimakasih ya bunda. Tiara banyak belajar hal-hal baru sama bunda. Dan Tiara gak bakalan lupain itu. Bunda itu mama kedua buat Tiara. Sampai jumpa bunda,”
Aku mulai menghapus sisa-sisa airmataku. Jasa seorang ibu seperti bunda Nana takkan kulupakan, kenangan itu, tangisan itu. Selalu jadi tonggak dalam hidupku. Mama dan bunda Nana adalah segalanya untukku.
Akhirnya aku lulus SMA, itu saatnya aku berpisah dengan Nanda. Rasanya aku tak ingin kehilangannya. Kenanganku bersamanya selama setahun tinggal satu atap dengannya. Serasa bagai bunga layu yang berusaha untuk tetap hidup. Inilah aku saat ini. Tetapi selama setahun ini mengapa senyum Nanda yang aku tunggu tak kunjung mekar. Aku hanya minta satu yaitu ‘SENYUM’ darinya sambil berkata ‘Ternyata Tiara sudah berubah’. Ah tidak mungkin!
Nanda belum juga pulang, padahal dia tahu bahwa pagi ini aku akan berangkat ke Bandung. Apa dia tak ingin melihatku untuk yang terakhir kalinya? Apa dia benar-benar membenciku? Tuhan, untuk kali ini saja izinkan aku mengalirkan embun di pelupuk mataku di hadapan Nanda untuk yang terakhir kalinya. Ingin sekali ku memeluknya, menyapu tinta rindu yang telah lama tersimpan di kalbu. Serasa sesak tak kunjung terbuang. Apalah daya bila yang di sayang tak tahu di sayang.
“Bunda, terimakasih atas kasih sayang bunda selama setahun ini, sekarang Tiara sudah lulus SMA, Tiara harus kembali ke Bandung dan melanjutkan kuliah disana!” Aku mencium tangan bunda Nana sambil nangis terisak. Bunda Nana pun mengikuti alunan isak tangisku seraya memelukku seperti tak ingin berpisah dariku.
“Tiara anak bunda, bunda sayang sama kamu seperti bunda sayang sama Nanda dan anak kandung bunda yang lainnya, bunda harap Tiara jadi anak yang sukses kelak nanti. Bunda sayang sama Tiara.”
“Terimakasih ya bunda. Tiara banyak belajar hal-hal baru sama bunda. Dan Tiara gak bakalan lupain itu. Bunda itu mama kedua buat Tiara. Sampai jumpa bunda,”
Aku mulai menghapus sisa-sisa airmataku. Jasa seorang ibu seperti bunda Nana takkan kulupakan, kenangan itu, tangisan itu. Selalu jadi tonggak dalam hidupku. Mama dan bunda Nana adalah segalanya untukku.
***
Mama memelukku dengan erat. Isak tangis tak dapat aku hentikan. Mama sangat merindukanku dan bangga kepadaku yang telah mampu mengharumkan nama keluarga katanya. Hal itu disebabkan aku berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri di Bandung dan tentunya aku di terima kerja sebagai staf akuntansi di salah satu kantor tempat pamanku bekerja. Syukur Alhamdulillah, aku benar-benar beruntung. Belum kuliah saja langsung di terima kerja. Sekarang aku tahu nikmatnya menjadi seperti ini. Aku tak sia-sia merubah diriku menjadi seperti Nanda. Walau aku bukan Nanda. Tak ada yang terlambat untuk berubah selama masih di beri Tuhan hidup di dunia.
Saat ku bereskan koper pakaianku, aku melihat sebuah kado yang tak tahu entah siapa pengirimnya. Perlahan ku sobek bungkusannya. Ku lihat sebuah album berisi beberapa foto dan beberapa surat yang tak lain adalah dari Nanda (my first love). Ku lihat ada foto saatku belajar menggunakan SKS (Sistem Kebut Semalam), foto saat makan malam, foto tidur dan foto saat bertengkar dengannya. Hal itu membuatku tak berhenti untuk tertawa. Dan perlahan aku membaca surat darinya.
Mama memelukku dengan erat. Isak tangis tak dapat aku hentikan. Mama sangat merindukanku dan bangga kepadaku yang telah mampu mengharumkan nama keluarga katanya. Hal itu disebabkan aku berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri di Bandung dan tentunya aku di terima kerja sebagai staf akuntansi di salah satu kantor tempat pamanku bekerja. Syukur Alhamdulillah, aku benar-benar beruntung. Belum kuliah saja langsung di terima kerja. Sekarang aku tahu nikmatnya menjadi seperti ini. Aku tak sia-sia merubah diriku menjadi seperti Nanda. Walau aku bukan Nanda. Tak ada yang terlambat untuk berubah selama masih di beri Tuhan hidup di dunia.
Saat ku bereskan koper pakaianku, aku melihat sebuah kado yang tak tahu entah siapa pengirimnya. Perlahan ku sobek bungkusannya. Ku lihat sebuah album berisi beberapa foto dan beberapa surat yang tak lain adalah dari Nanda (my first love). Ku lihat ada foto saatku belajar menggunakan SKS (Sistem Kebut Semalam), foto saat makan malam, foto tidur dan foto saat bertengkar dengannya. Hal itu membuatku tak berhenti untuk tertawa. Dan perlahan aku membaca surat darinya.
‘Dear, Tiara. Untuk seseorang yang aku cintai sejak dulu. Terimakasih telah memberi kenangan indah selama setahun bersamaku. Hal yang harus kamu ketahui, aku tak pernah berfikir untuk tak menyukaimu tinggal bersamaku. Hal terindah dalam hidupku adalah tinggal bersamamu. Mungkin kau juga merasakan hal yang sama denganku. Aku yang selalu kau lukiskan sebagai ‘first love’ buat kamu. Tiara, sudah lama aku memendam perasaanku. Aku masih mencintaimu. Aku tahu kau bukan gadis yang cengeng, aku tahu kau telah merubahnya setahun setelah kita berpisah! Aku hanya ingin pembuktian. Bukan berarti aku tak menerimamu apa adanya. Namun yang harus kau tahu, suatu hubungan tak hanya didasari dengan cinta, tapi juga pembuktian untuk merubah menjadi lebih baik. Aku ingin Tiara yang tegar dan kuat dan aku telah mendapatkannya sejak awal kita tinggal bersama. Tiara yang tidak cengeng dan tidak mudah menyerah, aku juga sudah mendapatkannya. Aku mau Tiara yang pantang menyerah dan mungkin semangatnya membara sepertiku. Tinggal satu langkah lagi Tiara, Kau ingin sepertiku bukan? buatlah api semangatmu membara sepertiku! Kau bukan gadis bodoh yang lemah dan cengeng seperti yang ku katakan di kehidupanmu. Maaf perkataanku, ku harap hal itu menjadi motivasi/dorongan yang kau inginkan dariku. Terima kasih Tiara. Aku mencintaimu.
Salam
sayang
‘Nanda’
Terimakasih Tuhan, Engkau telah
memberi suatu keajaiban untukku. Membuktikanku bahwa Tuhan selalu memberikan apa
yang dibutuhkan oleh hamba-Nya dengan segala usaha dan doa Hamba-Nya.
Terimakasih Tuhan, terimakasih Mama, bunda, Nanda dan yang lainnya. Aku selalu
sayang kalian.
SELESAI
(MAAF
APABILA CERITA INI TIDAK MENGIKUTI SYARAT-SYARAT CERPEN, INI HANYA CERITA
FIKTIF, YANG SEBENARNYA INGIN SEKALI KU ALAMI DI KEHIDUPANKU BERSAMA MY FIRST
LOVE yang sangat ku rindukan… TERIMAKASIH TELAH MEMBACA…. Hahaha)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar