Namaku Ara. Aku adalah anak
bungsu. Aku gadis yang sangat mudah bosan untuk mengerjakan hal apapun. Hal
inilah yang membuat aku tidak begitu pandai mengaji seperti teman-temanku yang
lain. Teman-temanku adalah teman yang rajin dirumah, tidak seperti aku yang
terkadang saja rajinnya. Kadang aku melihat sisi luar mereka saat disekolah
beberapa gadis sangat centil. Tetapi setelah mengenal mereka lebih, mereka
sangat rajin dirumah, tidak pernah melawan orangtua kecuali apabila mereka
benar. Mereka rajin sebagai gadis remaja dan mereka sudah khatam al-qur’an
sejak kecil. Hal itulah yang membuatku termotivasi. Orang lain lihat aku anak
baik-baik, tapi disisi lain aku rasa aku tidak baik-baik karena satu hal yaitu
aku belum khatam al-qur’an di umurku yang menginjak remaja seperti ini.
Pernah aku mempunyai pacar (biasalah ketularan anak ABG) yang katanya pintar baca al-qur’an (belum pernah dengar dia baca al-qur’an sih) menginginkanku untuk belajar mengaji bersamanya (baik sekali ya), tapi waktu itu aku malu diajari sama pacar (takut ketauan begonya J ) jadi aku berusaha sendiri.
Pernah aku mempunyai pacar (biasalah ketularan anak ABG) yang katanya pintar baca al-qur’an (belum pernah dengar dia baca al-qur’an sih) menginginkanku untuk belajar mengaji bersamanya (baik sekali ya), tapi waktu itu aku malu diajari sama pacar (takut ketauan begonya J ) jadi aku berusaha sendiri.
Aku malu, sangat malu bila
teman-temanku tahu aku belum khatam al-qur’an sekalipun. Hingga suatu hari aku
menemukan sosok teman yang baik, guru ngaji pula buat anak-anak. Aku senang
mengenalnya. Sejak saat itu aku berani mengatakan aku belum pernah khatam
al-qur’an. Aku ikut rohis di sekolah, tapi aku paling malas apabila disuruh
baca al-qur’an jadi pelan-pelan saja bacanya, terus aku paling senang datang terlambat
supaya tidak disuruh baca al-qur’an (1000 alasan J).
Diumurku yang ke enambelas,
aku mulai ingin tahu bagaimana itu khatam, kepada teman kepercayaanku aku
bertanya, tetapi tidak jauh dari kata buat pulut kuning setelah selipannya. Hal
itu juga yang membuatku ingin seperti itu. Berkali-kali aku bertanya pada ibuku
pernakah nenek melakukan hal itu. Jawabannya pasti ‘Ya pernah’ . Aku pun mulai
meminta itu dilakukan juga padaku, tapi dengan syarat aku harus tamat sampai
juz 30 (sampai surah an-nas). Mungkin bagi orang lain itu hal yang mudah. Tapi
bagiku ini hal yang sulit karena aku orang yang mudah bosan.
Aku mulai belajar tajwid
dengan salah seorang pemuda rekan kerja ibuku. Disana aku mulai tahu
kesalahanku dalam membaca al-qur’an selama ini. Ibuku pernah mengajariku
sewaktu kecil, hanya saja aku mudah bosan sehingga ibuku pun jadi berhenti
mengajariku. Seperti biasa aku orang yang pembosan membuat aku sering mengeluh
dalam hatiku karena selalu mengulang-ulang lagi pembacaan ayat-ayatnya. Hal yang
sulit bagiku harus menyisakan waktu istirahatku sepulang sekolah untuk belajar
tajwid. Bukan hal yang mudah bagiku. Sering sekali aku membuat beribu alasan
untuk libur mengaji. Karena fisikku yang mudah lelah yang harus membagi waktu
untuk sekolah, les dan belajar tajwid.
Aku orang yang emosian dalam
hal apapun hingga terkadang aku tak mengingat apa yang di ajarkan pemuda itu
padaku. Tapi sekarang aku percaya akan pepatah ini “Ala bisa karena biasa”.
Walaupun sekarang aku berhenti mengaji, tapi setidaknya ada banyak tajwid yang biasa
ku ingat walaupun belum sempurna.
Di awal bulan Desember, aku
menemukan jawaban dari pertanyaan biasa namun membuatku sangat penasaran yaitu
bagaimana cara khatam, apa khatam itu dan wajibkah ketika khatam membuat pulut
kuning? Aku mendapatkannya dari kakak yang mengajarkanku mentoring. Dia berkata
“Khatam itu ketika kita sudah menamatkan 30 juz dan membaca doa khatam, doa
khatam ada di lembaran terakhir setelah surah an-nas. Membuat pulut kuning itu
tidak wajib. Itu hanya ritual saja. Jadi harus sering-sering khatam”. Lalu aku
bertanya lagi “Mengapa ada beberapa teman-temanku yang berkata bahwa dia pernah
sekali atau dua kali khatam sewaktu kecil, lalu apa berarti dia tak membaca
al-qur’an lagi stelah itu?” Aku mendapat jawaban lagi “Pernah kakak ditanya:
berapa kali kamu khatam? Kakak menjawab: entah, aku tidak tahu berapa kali aku
khatam, sudah banyak, aku tidak ingat. Jadi jawaban temanmu tadi salah, mungkin
dia kurang paham apa itu khatam. Khatam itu adalah ketika kita sudah menamatkan
30 juz ayat suci al-qur’an dan membaca doa khatam”. Sejak aku menemukan jawaban
itu aku berusaha untuk bisa khatam mengejar ketertinggalanku sebagai remaja
muslimah.
Setelah aku berumur 17 tahun
25 hari di tanggal 31 Desember pukul 23:12 aku berhasil khatam al-qur’an untuk
yang pertama kalinya buat mengejar ketertinggalanku sebagai remaja muslim/muslimah
yang sudah pernah khatam. Tapi bagiku ini ISTIMEWA. Akhirnya aku khatam
Al-qur’an.
SELESAI