Kamis, 23 Mei 2013

Tidak tahu kenapa


                          TIDAK TAHU KENAPa
                                                             By: Yunizara Pangaribuan

            Suasana kota Jakarta tak seindah tanah kelahiranku. Tanah kelahiran yang selalu terkenang, tentunya dengan kehadiran kedua sahabatku Ceria dan Ryan. Biasanya setiap senja tiba aku senang berlama-lama di taman bersama mereka. Menyaksikan kemilau langit senja,  juga burung-burung yang hendak pulang ke sarang. Di kota ini aku merasa sepi, tak ada tawa seindah tawa mereka, tak ada kesan yang aku rasakan di Jakarta.
***
Aku menerima email dari Ceria dan Ryan. Email yang datang kesekian kali, setelah email yang mendesakku untuk kembali pulang bersama mereka. Aku tak sanggup membukanya. Aku sudah menduga email itu bertujuan agar aku segera pulang untuk menyaksikan pernikahan mereka bulan Mei nanti.
Aku tak punya nyali untuk pulang dengan perasaan seperti ini. Tidak tahu kenapa aku bisa memiliki perasaan terlarang ini. Rindu mengental kian menyiksa mengalir di sekujur tubuhku. Terlebih-lebih dengan kebeningan wajah Ryan yang semakin merasuk dalam jiwaku.
Ku coba perlahan membaca email dari Ceria. Email kali ini isinya jauh berbeda. ‘Tyo, balaslah pesanku ini. Apa kabarmu di Jakarta? Tidakkah kau merindukanku juga merindukan Ryan? Aku berharap kau kembali. Aku takkan memaksamu untuk berlama-lama berada di sini jika kau lebih betah di Jakarta. Hanya saja kau harus datang di pernikahanku dan Ryan jika kau masih menganggap kami sahabatmu’.
Perlahan butiran embun mengalir di pelupuk mataku. Aku tak bisa mengingkari kerinduanku dengan kedua sahabatku, khususnya dengan Ryan yang setiap malam menjadi bunga tidurku.
Perasaan rindu tumbuh merayap dalam benak. Aku merasakan cinta yang melonjak-lonjak. Kemilau wajah Ryan melebihi indahnya kemilau bintang di langit. Aku tak kuat bila harus pulang di tanah kelahiranku dengan perasaan ini.
Ah, mengapa perasaan galau hinggap seperti hendak membunuhku? Aku tidak dapat menahan rasa cinta ini. Aku takkan sanggup menyaksikan pernikahan mereka. Namun, mereka sahabatku. Tidakkah aku memikirkan perasaan mereka apabila aku tidak datang nanti? Oh Tuhan, hanya Engkaulah yang tahu perasaanku ini. Aku tidak tahu kenapa aku mencintai sesama jenis. Bantu aku Tuhan, aku sungguh mencintai Ryan.
***
Apakah Tuhan tak berpihak padaku? Aku hanya ingin menyukai lawan jenisku, bukan sesama jenis apalagi sahabatku sendiri. Mengapa aku tidak punya daya tarik dengan gadis-gadis cantik yang ada di kampusku.
Sungguh kenyataan yang tak ku senangi saat aku menyaksikan pertukaran cincin Ceria dan Ryan setahun yang lalu. Terlebih lagi saat aku masih duduk di bangku SMA, binar-binar mata mereka telah menunjukkannya kepadaku.
Hatiku teriris-iris setiap kali melihat mereka. Mungkin saat itulah rasaku menyemai hingga sekarang. Perasaan yang membuatku galau setiap senja tiba di Jakarta.
***
Aku terpaksa membalas email Ceria. Apa boleh buat, dia juga salah satu sahabat yang selalu satu sekolah dan satu meja denganku. Sahabat yang paling mengerti aku. Aku berkata bahwa aku akan datang seminggu sebelum pernikahan mereka. Ceria dan Ryan, sahabat masa kecilku. Akankah aku mampu menyaksikan pernikahan mereka? Tuhan, matikanlah perasaanku untuk Ryan.
***
Mataku terasa berat. Pandanganku kabut. Mungkin karena aku telah lama menangis. Aku merasa bodoh, ya aku memang bodoh bila memiliki perasaan terlarang ini. Tetapi aku tidak tahu kenapa, aku tidak tahu penyebab perasaanku ini.
Aku cinta Ryan, Ryan lebih dari indah di dalam hati ini. Tetapi aku harus menghapus perasaanku ini. Senyuman kedua sahabatku lebih penting dari perasaanku yang gila ini. Sahabat adalah segalanya untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar