Sabtu, 25 Mei 2013

Cerita Bersambung


Pangeran muda

Ini hari pertama aku di kelas dua, hari pertama aku akan jumpa adik-adik baru tentunya. Sayangnya aku bukan anggota OSIS seperti kedua temanku, Dewi dan Sella. Walaupun aku iri, tapi ya sudahlah, mungkin ini sudah takdirku di tolak waktu seleksi di kelas satu. Seandainya waktu itu aku lebih fokus ke ujian TPA dan interview, mungkin sekarang aku sudah menjadi anggota OSIS sekaligus jadi kakak MOS. Hahaha. Benar-benar berharap. Huh!
            Menyebalkan! Ngapain coba sekolah hari ini, toh juga para guru masih sibuk dengan adik kelas satu dan kedua temanku sibuk menjadi kakak MOS. Nah aku? Cuma melongo lihatin cowok berondong. Ah! Semua ini membuat aku sedih, cemburu, iri, marah. Campur deh! Dari tadi aku mutar-mutar mengitari ruangan kelas satu. Tapi tidak ada satupun yang membuat aku terhenti untuk duduk diam dari perjalanan yang bikin semak anak kelas tiga. Hahaha. Menyemak!
            Aku sedikit bahagia karena salah satu temanku mengajakku ke kantin. Lagian juga pas, perutku lagi keroncongan mau minta di isi. Paling enggak melepas rasa lapar saja. Aku mulai menjalani permintaan perutku dan akhirnya terisi deh perut yang kosong ini dengan sepiring mie goreng kesukaanku. Benar-benar delicious!
            Wow! Amazing! Ada cowok ganteng berpakaian SMP yang membuat pandangan mataku terhenti dan tertuju padanya. Pria yang tampan. Wah! Cowok ini tubuhnya tinggi, rambutnya ikal, dan pakaianya cukup pantas di bilang rapi. Siapa ya nama cowok ini? Dimana dia menjalani MOS? Pertanyaan yang bertubi-tubi mengitari logikaku. Cowok ini membawa segelas teh hangat. Aduh gawat! Dia menghampiriku dan temanku. Tapi dia tidak menoleh padaku. Huhuhu.
            “Permisi kak, saya mau duduk,” kata cowok itu pada temanku.
            “Eh, kasih lah adik tu duduk, geser kesini sedikit,” kataku pada temanku.
Sayangnya cowok itu malah pergi mencari bangku lain, dia duduk agak jauh dariku. Aku terus memandanginya dan selalu berharap dia melihatku. Cowok ini membuat aku terkesan dan membuat perasaanku tak menentu.
            Bel masuk kelas satu pun berbunyi. Itu tandanya dia akan pergi dari pandanganku. Aku langsung bergegas membaca badge namanya. Dan berhasil, aku menemukan namanya. Namanya Onny Bima Prakasa. Nama yang bagus. Pokoknya nanti malam aku harus mencari tahu siapa cowok yang sudah membuat hatiku tak menentu seperti ini. Yeah!
***
            Hore, aku mendapatkan nama facebooknya. Syukur saja cowok tadi memakai nama profilnya dengan nama lengkapnya sendiri. Senangnya hatiku. Aku langsung meng-klik add as friend di profilnya dan surprise….. cowok itu langsung meng-confirm. Nekat saja deh memulai percakapan lewat obrolan/chat/pesan. Dan lebih-lebih senangnya lagi cowok ini ramah, baik hati juga dan famous kayaknya. Soalnya banyak teman di sekolah yang baru saja di confirm sama dia. Iya kan?
J
            Dan tidak lama kemudian, aku membaca statusnya yang intinya dia tak akan sms lebih dulu sebelum orang lain yang memulai percakapan itu. Tanpa ragu aku langsung mengetik nomor ponselnya dan memulai percakapan dengannya. Senangnya hatiku. Benar-benar berbunga-bunga. Hehehe. Aku buka satu per satu album fotonya. Nice, manis sekali cowok ini. Ada yang memakai baju paskibra, dan lain-lain. Tapi yang pastinya wajah aslinya jauh lebih tampan dibanding fotonya.
            Aku benar-benar tidak percaya, sebab rumah Onny tidak begitu jauh dariku. Lantas mengapa selama ini aku tak pernah melihatnya. Apakah Tuhan punya rencana lain untukku? Entahlah, mungkin pertemuan ini lebih baik. Tiba-tiba dia mengajakku bertemu. Oh Tuhan bagaimana ini? Bagaimana kalau besok pipiku memerah seperti tomat. Gawat! Tanpa berfikir panjang aku langsung menerima permintaannya. Semoga saja dia tidak terkejut melihatku dan semoga dia tidak hanya ramah di dunia maya, tetapi ramah di dunia nyata. Amin.

BERSAMBUNG

Terima kasih

Terima kasih

            Aku tiba di Medan setelah seminggu menginap di rumah orangtuaku di Bandung. Tetapi aku harus dititipkan ke tempat orangtua mantan kekasihku (si Nanda) yang siap merawatku setahun kedepan sampai aku lulus UN. Ya, di kota ini aku tinggal sendiri, tanpa mama, kakak dan saudaraku. Entah mengapa mama menitipkanku di tempat ini. Walau sebenarnya aku bahagia, namun serasa tiada guna bila my first love bukan milikku lagi. Ah! Dasar masa lalu!
            Mungkin, aku belum terbiasa hidup bersama orang lain, apalagi bersama orang yang kucintai saat ini. Tetapi aku patut bersyukur pada Tuhan, dengan begini percobaanku untuk hidup seperti Nanda akan seutuhnya tercapai. Sekarang aku tak tau malam ini aku harus tidur dimana dan mungkin Nanda tak menyukaiku tinggal disini.
            Aku tahu diri sebagai orang lain di rumah Nanda, aku harus mulai membiasakan diri memulai segala sesuatu.
            “E… Nanda…. Aku boleh nanya sesuatu gak?” kataku seraya duduk di sampingnya tepat saat dia berhadapan dengan laptopnya.
            “Boleh…” sahutnya tanpa menolehku.
            “Kok kamu bisa pinter banget? Resepnya apa? Aku sudah berusaha loh untuk berubah, mencoba mandiri dan tekun dalam belajar, aku ingin sepertimu, aku tak ingin lagi menyia-nyiakan waktuku” Sebenarnya aku basa-basi nanya soal ini. Aku tak tahu harus mulai darimana. Lagian daritadi aku di di anggurin saja, mending di apelin mumpung malam minggu begini kan seru. Hahaha!
            “Ya sudah belajar sana!” sambungnya beberapa detik.
            “Kamu gak suka aku tinggal disini ya?”
            “Kalaupun aku gak suka, ini rumah orangtuaku, terserahnya mau gimana!”
            “Kamu bilang aja, kalau kamu gak suka aku bisa pergi kok!”
            “Mau kemana kamu? Sok berani! Nanti juga nangis di jalan, atau gak pingsan atau ketakutan!”
Dasar sialan! Anak super nyebelin! Arggh!!! Lihat saja, setelah bagi rapot ini, aku bakal pergi kok dari rumah ini! Entah mengapa dia hafal sekali tingkahku. Padahal aku dan dia sudah berpisah 2 tahun yang lalu. Tapi masih saja ingat. Apa sih isi otaknya???? Sudah dua tahun juga, masih saja di ingat-ingat.
            “Nanda, aku sudah berubah, setahun setelah kita berpisah. Aku hanya membutuhkan sedikit motivasi. Aku bukan lagi seperti dulu Nanda. Tolonglah lihat aku!” (kata hatiku).
***
            Keputusanku sudah bulat, aku gak mau lagi tinggal disini. Tapi entah mengapa bayang wajah mama menari-nari di kepalaku. Aku takut mama kepikiran tentangku, kalau nanti bunda Nana (ibunya Nanda) bilang ke mama bisa gawat! Aduh! Tapi………… Gimana dengan Nanda? Kalau aku ketemu dengannya bagaimana? Kalau sebentar lagi dia pulang dan bertemu lagi denganku bagaimana? Ya sudahlah.. Sepertinya aku harus mengirim surat, tapi kesannya mendramatisir. Kalau di ketawain oleh Nanda bagaimana? Kalau nanti Nanda cuek saja bagaimana? (Kebanyakan mikir, mau kabur aja susah amat ya???)
            Kucoba berjalan keluar dari pintu belakang, sepertinya bunda Nana sedang keluar. Tapi gubrakkk! Dasar sial, aku malah menabrak Nanda sampai pingsan gara-gara kepalanya kebentur tembok.
            “Nanda……….” Aku berharap Nanda sadar, tapi dia tetap tak sadarkan diri. Sebagai manusia yang berperikemanusiaan, aku harus bertanggung jawab atas kesalahanku. Aku harus merawatnya sampai dia sembuh. Huh!
***
            Akhirnya aku lulus SMA, itu saatnya aku berpisah dengan Nanda. Rasanya aku tak ingin kehilangannya. Kenanganku bersamanya selama setahun tinggal satu atap dengannya. Serasa bagai bunga layu yang berusaha untuk tetap hidup. Inilah aku saat ini. Tetapi selama setahun ini mengapa senyum Nanda yang aku tunggu tak kunjung mekar. Aku hanya minta satu yaitu ‘SENYUM’ darinya sambil berkata ‘Ternyata Tiara sudah berubah’. Ah tidak mungkin!
            Nanda belum juga pulang, padahal dia tahu bahwa pagi ini aku akan berangkat ke Bandung. Apa dia tak ingin melihatku untuk yang terakhir kalinya? Apa dia benar-benar membenciku? Tuhan, untuk kali ini saja izinkan aku mengalirkan embun di pelupuk mataku di hadapan Nanda untuk yang terakhir kalinya. Ingin sekali ku memeluknya, menyapu tinta rindu yang telah lama tersimpan di kalbu. Serasa sesak tak kunjung terbuang. Apalah daya bila yang di sayang tak tahu di sayang.
            “Bunda, terimakasih atas kasih sayang bunda selama setahun ini, sekarang Tiara sudah lulus SMA, Tiara harus kembali ke Bandung dan melanjutkan kuliah disana!” Aku mencium tangan bunda Nana sambil nangis terisak. Bunda Nana pun mengikuti alunan isak tangisku seraya memelukku seperti tak ingin berpisah dariku.
            “Tiara anak bunda, bunda sayang sama kamu seperti bunda sayang sama Nanda dan anak kandung bunda yang lainnya, bunda harap Tiara jadi anak yang sukses kelak nanti. Bunda sayang sama Tiara.”
            “Terimakasih ya bunda. Tiara banyak belajar hal-hal baru sama bunda. Dan Tiara gak bakalan lupain itu. Bunda itu mama kedua buat Tiara. Sampai jumpa bunda,”
            Aku mulai menghapus sisa-sisa airmataku. Jasa seorang ibu seperti bunda Nana takkan kulupakan, kenangan itu, tangisan itu. Selalu jadi tonggak dalam hidupku. Mama dan bunda Nana adalah segalanya untukku.
***
            Mama memelukku dengan erat. Isak tangis tak dapat aku hentikan. Mama sangat merindukanku dan bangga kepadaku yang telah mampu mengharumkan nama keluarga katanya. Hal itu disebabkan aku berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri di Bandung dan tentunya aku di terima kerja sebagai staf akuntansi di salah satu kantor tempat pamanku bekerja. Syukur Alhamdulillah, aku benar-benar beruntung. Belum kuliah saja langsung di terima kerja. Sekarang aku tahu nikmatnya menjadi seperti ini. Aku tak sia-sia merubah diriku menjadi seperti Nanda. Walau aku bukan Nanda. Tak ada yang terlambat untuk berubah selama masih di beri Tuhan hidup di dunia.
            Saat ku bereskan koper pakaianku, aku melihat sebuah kado yang tak tahu entah siapa pengirimnya. Perlahan ku sobek bungkusannya. Ku lihat sebuah album berisi beberapa foto dan beberapa surat yang tak lain adalah dari Nanda (my first love). Ku lihat ada foto saatku belajar menggunakan SKS (Sistem Kebut Semalam), foto saat makan malam, foto tidur dan foto saat bertengkar dengannya.  Hal itu membuatku tak berhenti untuk tertawa. Dan perlahan aku membaca surat darinya.

‘Dear, Tiara. Untuk seseorang yang aku cintai sejak dulu. Terimakasih telah memberi kenangan indah selama setahun bersamaku. Hal yang harus kamu ketahui, aku tak pernah berfikir untuk tak menyukaimu tinggal bersamaku. Hal terindah dalam hidupku adalah tinggal bersamamu. Mungkin kau juga merasakan hal yang sama denganku. Aku yang selalu kau lukiskan sebagai ‘first love’ buat kamu. Tiara, sudah lama aku memendam perasaanku. Aku masih mencintaimu.  Aku tahu kau bukan gadis yang cengeng, aku tahu kau telah merubahnya setahun setelah kita berpisah! Aku hanya ingin pembuktian. Bukan berarti aku tak menerimamu apa adanya. Namun yang harus kau tahu, suatu hubungan tak hanya didasari dengan cinta, tapi juga pembuktian untuk merubah menjadi lebih baik. Aku ingin Tiara yang tegar dan kuat dan aku telah mendapatkannya sejak awal kita tinggal bersama. Tiara yang tidak cengeng dan tidak mudah menyerah, aku juga sudah mendapatkannya. Aku mau Tiara yang pantang menyerah dan mungkin semangatnya membara sepertiku. Tinggal satu langkah lagi Tiara, Kau ingin sepertiku bukan? buatlah api semangatmu membara sepertiku! Kau bukan gadis bodoh yang lemah dan cengeng seperti yang ku katakan di kehidupanmu. Maaf perkataanku, ku harap hal itu menjadi motivasi/dorongan yang kau inginkan dariku. Terima kasih Tiara. Aku mencintaimu.
                                                                                    Salam sayang
                                                                                       ‘Nanda’
            Terimakasih Tuhan, Engkau telah memberi suatu keajaiban untukku. Membuktikanku bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya dengan segala usaha dan doa Hamba-Nya. Terimakasih Tuhan, terimakasih Mama, bunda, Nanda dan yang lainnya. Aku selalu sayang kalian.

SELESAI

(MAAF APABILA CERITA INI TIDAK MENGIKUTI SYARAT-SYARAT CERPEN, INI HANYA CERITA FIKTIF, YANG SEBENARNYA INGIN SEKALI KU ALAMI DI KEHIDUPANKU BERSAMA MY FIRST LOVE yang sangat ku rindukan… TERIMAKASIH TELAH MEMBACA…. Hahaha)

Kamis, 23 Mei 2013

Tidak tahu kenapa


                          TIDAK TAHU KENAPa
                                                             By: Yunizara Pangaribuan

            Suasana kota Jakarta tak seindah tanah kelahiranku. Tanah kelahiran yang selalu terkenang, tentunya dengan kehadiran kedua sahabatku Ceria dan Ryan. Biasanya setiap senja tiba aku senang berlama-lama di taman bersama mereka. Menyaksikan kemilau langit senja,  juga burung-burung yang hendak pulang ke sarang. Di kota ini aku merasa sepi, tak ada tawa seindah tawa mereka, tak ada kesan yang aku rasakan di Jakarta.
***
Aku menerima email dari Ceria dan Ryan. Email yang datang kesekian kali, setelah email yang mendesakku untuk kembali pulang bersama mereka. Aku tak sanggup membukanya. Aku sudah menduga email itu bertujuan agar aku segera pulang untuk menyaksikan pernikahan mereka bulan Mei nanti.
Aku tak punya nyali untuk pulang dengan perasaan seperti ini. Tidak tahu kenapa aku bisa memiliki perasaan terlarang ini. Rindu mengental kian menyiksa mengalir di sekujur tubuhku. Terlebih-lebih dengan kebeningan wajah Ryan yang semakin merasuk dalam jiwaku.
Ku coba perlahan membaca email dari Ceria. Email kali ini isinya jauh berbeda. ‘Tyo, balaslah pesanku ini. Apa kabarmu di Jakarta? Tidakkah kau merindukanku juga merindukan Ryan? Aku berharap kau kembali. Aku takkan memaksamu untuk berlama-lama berada di sini jika kau lebih betah di Jakarta. Hanya saja kau harus datang di pernikahanku dan Ryan jika kau masih menganggap kami sahabatmu’.
Perlahan butiran embun mengalir di pelupuk mataku. Aku tak bisa mengingkari kerinduanku dengan kedua sahabatku, khususnya dengan Ryan yang setiap malam menjadi bunga tidurku.
Perasaan rindu tumbuh merayap dalam benak. Aku merasakan cinta yang melonjak-lonjak. Kemilau wajah Ryan melebihi indahnya kemilau bintang di langit. Aku tak kuat bila harus pulang di tanah kelahiranku dengan perasaan ini.
Ah, mengapa perasaan galau hinggap seperti hendak membunuhku? Aku tidak dapat menahan rasa cinta ini. Aku takkan sanggup menyaksikan pernikahan mereka. Namun, mereka sahabatku. Tidakkah aku memikirkan perasaan mereka apabila aku tidak datang nanti? Oh Tuhan, hanya Engkaulah yang tahu perasaanku ini. Aku tidak tahu kenapa aku mencintai sesama jenis. Bantu aku Tuhan, aku sungguh mencintai Ryan.
***
Apakah Tuhan tak berpihak padaku? Aku hanya ingin menyukai lawan jenisku, bukan sesama jenis apalagi sahabatku sendiri. Mengapa aku tidak punya daya tarik dengan gadis-gadis cantik yang ada di kampusku.
Sungguh kenyataan yang tak ku senangi saat aku menyaksikan pertukaran cincin Ceria dan Ryan setahun yang lalu. Terlebih lagi saat aku masih duduk di bangku SMA, binar-binar mata mereka telah menunjukkannya kepadaku.
Hatiku teriris-iris setiap kali melihat mereka. Mungkin saat itulah rasaku menyemai hingga sekarang. Perasaan yang membuatku galau setiap senja tiba di Jakarta.
***
Aku terpaksa membalas email Ceria. Apa boleh buat, dia juga salah satu sahabat yang selalu satu sekolah dan satu meja denganku. Sahabat yang paling mengerti aku. Aku berkata bahwa aku akan datang seminggu sebelum pernikahan mereka. Ceria dan Ryan, sahabat masa kecilku. Akankah aku mampu menyaksikan pernikahan mereka? Tuhan, matikanlah perasaanku untuk Ryan.
***
Mataku terasa berat. Pandanganku kabut. Mungkin karena aku telah lama menangis. Aku merasa bodoh, ya aku memang bodoh bila memiliki perasaan terlarang ini. Tetapi aku tidak tahu kenapa, aku tidak tahu penyebab perasaanku ini.
Aku cinta Ryan, Ryan lebih dari indah di dalam hati ini. Tetapi aku harus menghapus perasaanku ini. Senyuman kedua sahabatku lebih penting dari perasaanku yang gila ini. Sahabat adalah segalanya untukku.