Setiap
hubungan pasti memiliki banyak suka duka. Manusia di seluruh muka bumi ini
pasti memiliki banyak rintangan juga kejutan-kejutan istimewa dalam suatu
hubungan, baik hubungan keluarga, hubungan pertemanan maupun hubungan percintaan.
Tak ada yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi di keesokan hari. Itulah
yang terjadi pada Rina, Rina adalah seorang mahasiswi fakultas ekonomi di salah
satu universitas yang ada di kota Medan dan sedang menjalani semester akhir.
Selain berkuliah, Rina juga bekerja di sebuah toko kue yang tak jauh dari
tempat tinggalnya. Sudah 3 tahun lamanya ia menjalin cinta dengan seorang pria
bernama Dito, mahasiswa fakultas psikologi dan bekerja sebagai cleaning servis
di salah satu mall ternama.
Tak
akan ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi di hari-hari berikutnya. 3
tahun lamanya menjalin hubungan percintaan bukanlah hal yang sulit bagi
pasangan Rina dan Dito. Mereka menjalani hari-hari mereka dengan penuh canda
tawa, mereka selalu berbagi suka dan duka. Meski pekerjaan kekasihnya tak
seperti yang lain tak jadi halangan bagi Rina, Rina selalu menerima Dito karena
baginya Dito mampu memberikan kebahagiaan pada dirinya, iapun selalu berjanji
akan selalu menemani Dito sampai ia sukses dikemudian hari.
Tak
pernah terbesit sedikitpun di hati Rina untuk mencari pria lain hingga akhir
sarjana. Setelah wisuda berakhir Rina tak lagi bekerja di toko kue dan Dito
masih bekerja di tempat lamanya, Rina dan Dito merintis usaha mereka yang
dinamai “Rindi Bakery”. Meski sedang merintis usaha, Rina tak terlalu memprioritaskan
toko kue mereka, ia tetap mencari pekerjaan di perusahaan. Sedangkan Dito sibuk
merintis toko mereka sembari masih bekerja dan terkadang mengisi acara-acara motivasi
di berbagai tempat untuk menambah modal toko kue mereka.
2
bulan berlalu, akhirnya Rina mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan
property dan menjabat sebagai administrasi kantor. Karena saling sibuk satu
sama lain, mereka jadi jarang bertemu dan Rina tak lagi melihat perkembangan
usaha mereka. Di kesibukan yang semakin padat, Rina sering pulang bersama Beny,
manajernya. Setiap siang Rina dan Beny sering makan bersama, bercanda tawa
bahkan Beny seringkali memberikan hadiah kepada Rina. Terpesonalah Rina dengan
pesona beny yang begitu tampan dan gaya yang sangat menggoda hati para wanita.
“Saya
antar pulang ya!” ajak Beny pada Rina.
“
Tidak usah pak, saya bisa pulang sendiri kok,” jawab Rina menolak.
“Gak
baik lho gadis secantik kamu ini pulang sendiri, mari saya antar.” ajak Beny
lagi sembari menarik manja tangan Rina masuk ke dalam mobilnya.
Rina yang
tersipu malu tak dapat menolak ajakan Beny dan mengikuti ajakan manajer tampan
itu. Di malam hari ditemani bintang-bintang dan bulan sabit mewakili
perasaannya. Ia merasa bahwa ia telah jatuh cinta dengan manajernya itu. Setiap
malam mereka berkirim-kirim pesan, foto bahkan suara-suara mereka lewat
aplikasi Blackberry Messanger hingga ia enggan membalas pesan dari Dito yang
sangat merindukannya. Rina begitu terbuai oleh sikap dan pesona Beny, ia sangat
bahagia menerima semua hadiah pemberian Beny sampai ia lupa pada Dito.
Sebulan
berlalu, hubungan Rina dan Dito semakin jauh dan tak lagi mesra seperti selama 4
tahun terakhir. Manajer Rina yang selalu ada untuk Rina pun mencoba mencuri
hatinya. Meski ia tahu bahwa Rina sudah memiliki pacar namun ia tak berhenti
untuk mengejar hati Rina. Berbagai cara ditempuhnya bahkan cara yang buruk
sekalipun.
“Saya tau
kamu sudah punya pacar, tapi bukankah pacarmu itu belum mapan seperti saya?”
kata Beny.
“Saya tau
pak, tapi apa yang bisa saya lakukan?” jawab Rina dengan polosnya.
“Tinggalkan
saja dia Rin, saya janji akan membuatmu bahagia, saya akan selalu ada untukmu.
Saya mapan Rin, saya bisa beri segalanya untukmu, saya juga akan menikahimu
secepatnya,” sambung Beny dengan janji-janji manisnya.
“Benarkah?
Apa bapak mencintai saya?” sahut Rina lagi dengan wajah yang begitu serius.
“Tentu saja,
saya sangat mencintaimu, kamu mau jadi pacar saya?” Beny mulai menggenggam
tangan Rina dengan begitu romantisnya.
Malam itu
berakhir dengan bunga cinta di hati Rina, kenangan tentang Dito tersingkir oleh
pesona Beny. Di malam itu juga Rina memutuskan Dito dengan pesan singkat dari
aplikasi BBMnya.
Rina
aku mau kita putus!
aku mau kita putus!
Dito
jangan gitu dong sayang, maaf ya aku jarang ada buat kamu, besok kita ketemu yah, ada yang mau aku omongin sama kamu.
jangan gitu dong sayang, maaf ya aku jarang ada buat kamu, besok kita ketemu yah, ada yang mau aku omongin sama kamu.
Rina
Lupain aku Dito, aku gak bisa lagi sama kamu, aku udah bahagia sama oranglain, orang yang lebih kaya dari kamu. Jadi lupain aku!
Lupain aku Dito, aku gak bisa lagi sama kamu, aku udah bahagia sama oranglain, orang yang lebih kaya dari kamu. Jadi lupain aku!
Dito
Hanya karena kekayaan kamu ninggali aku? Kamu lupa sama janji kita? Apa gak bisa kita bicarakan baik-baik hubungan kita? Kenapa langsung bertindak seperti ini?
Hanya karena kekayaan kamu ninggali aku? Kamu lupa sama janji kita? Apa gak bisa kita bicarakan baik-baik hubungan kita? Kenapa langsung bertindak seperti ini?
Rina
sudahlah, lupakan aku.
sudahlah, lupakan aku.
Seperti
gemuruh petir menyambar habis hati Dito, Dito yang selama ini berusaha untuk
merintis usaha “Rindi bakery” malah ditinggalkan begitu saja oleh Rina. Rina
begitu gegabah dalam mengambil keputusan, ia begitu terbuai dengan kekayaan dan
ketampanan Beny. Bahkan tak sekalipun ia memikirkan perasaan Dito yang hangus
karena ulahnya dan tak pernah lagi membantu Dito dalam merintis usahanya. Ia
bahkan lupa bahwa ia juga bagian dari “Rindi bakery” dan ia begitu lupa semua
kisah-kisah tentangnya bersama Dito.
3
bulan berlalu, Beny mulai tak perhatian lagi terhadap Rina. Rina begitu sedih
dan sering murung di kantor bahkan ia tak berkonsentrasi dalam menyelesaikan
pekerjaannya. Seringkali Beny meninggalkan Rina pulang sendiri bahkan Beny
sering lupa dengan janji untuk jalan
bersama dengan alasan yang tak pernah masuk akal. Beny tak pernah lagi
memberikan hadiah ataupun kejutan istimewa pada Rina. Entah apa yang terjadi,
Rina samasekali tak mengerti.
Di
keheningan malam, tiba-tiba saja Rina merindukan Dito, sesekali ia melihat
gambar Dito yang masih tersimpan rapi di album foto miliknya. Begitu banyak
gambar mereka di album foto Rina, begitu kental kian menyiksa rindu yang ada di
hati Rina. Kenangan tentang Dito mulai menyelinap kembali di kepala Rina. Di
mulai dari pertama jatuh cinta pada Dito bahkan pahit manis menjalani cinta kasih
bersama Dito. Di balik bayang-bayang Dito yang selalu menghantuinya,
bayang-bayang Beny juga menyelinap dikepala Rina, ia masih saja bingung apa
yang terjadi pada Beny.
Langit
gelap malam berubah menjadi terang dan terik seperti hendak membakar tubuh.
Rina membuat janji dengan Beny di sebuah cafe, dengan langkah gontai Rina mulai
memasuki cafe tempat yang mereka janjikan. Betapa terkejutlah Rina dengan
penampakan yang ada di hadapannya. Ia melihat Beny bercumbu mesra dengan dua
gadis berpakaian mini di dalam cafe itu. Begitu kecewa hati Rina terhadap Beny.
“Jadi
selama ini kamu selingkuh?” tanya Rina dengan wajah kecewanya.
“Baguslah
kalau kamu sudah tau, kamu fikir aku mau bersama orang yang sok polos seperti
kamu? Kamu kira aku tahan sama cewek kayak kamu itu,” jawab sadis Beny dengan
wajah bengisnya.
“Maksud
kamu apa?” Rina mengerutkan dahinya.
“Aku
tidak tahan dengan prinsipmu itu, berciuman saja kamu tidak mau, bagaimana
mungkin aku bisa berlama-lama berpacaran denganmu, wanita sok suci! Sudah pergi
saja sana sama mantanmu itu, hahaha, oh iya mana mungkin dia mau lagi denganmu,
wanita penghianat! Rupanya kau bisa dibeli dengan uang,” sambung Beny mengejek.
“Jaga
mulutmu! Pria gila!” sahut Rina sambil menyiramkan air di wajah Beny dan pergi
dari cafe itu. Beny hanya tertawa dengan kedua wanitanya.
Tepat
di dalam kamar, tiba-tiba kotak musik pemberian Dito berbunyi dan mulai
bernyanyi “happy anniversary”, Rina terkejut sekali, ia baru ingat bahwa hari
ini adalah hari jadinya yang keempat tahun bersama Dito. Rina menangis
sejadi-jadinya, ia begitu menyesal telah meninggalkan Dito dan memilih
laki-laki lain yang buruk. Ia sadar bahwa hanya Dito yang mampu menerima
prinsip Rina, ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa
menangis dan membiarkan kotak musik itu bernyanyi hingga pagi hari.
Di
kantor, Rina begitu cepat menyelesaikan tanggung jawabnya dan menyiapkan surat
pengunduran dirinya. Ia begitu mantap untuk mengundurkan diri dan bergegas
meninggalkan kantor tempat ia bekerja selama 6 bulan. Teman dekat Rina di
kantor menanyakan apa yang telah terjadi pada Rina sehingga ia bertekad untuk
mengundurkan diri dari kantor, dengan wajah sedih dan airmata yang tak berhenti
mengalir, Rina mulai menceritakan apa yang tengah terjadi padanya. Teman Rina
yang mendengar cerita itupun turut sedih dengan semua yang terjadi pada Rina. Ia
lalu menyarankan pada Rina untuk meminta maaf pada Dito dan mencoba membuka lembaran
baru untuk kisah cinta mereka. Rina tersenyum kembali mendengar respon temannya
itu, ia berterimakasih dan bergegas menemui Dito di toko kue “Rindi bakery”.
Sesampainya
di toko kue itu, terkejutlah Rina melihat toko kue itu berubah menjadi lebih besar.
Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam toko itu dan bergegas pulang
kerumahnya. Ia juga takut kalau Dito akan mengejeknya ketika tahu ia telah
dikhianati oleh Beny, ia juga tak ingin Dito menyangka bahwa ia hanya datang
pada Dito ketika usahanya mulai berkembang dan di cap sebagai wanita
materialistis. Rina memilih pergi berlibur ke Gunung Sibayak karena begitu
penat dengan semua yang di alaminya. Sebelum ia pergi ia menulis pesan pada
Dito lewat aplikasi BBMnya.
Rina
Hai Dito. Apa kabar? Sebelumnya aku minta maaf karena telah melukaimu. Sekarang aku pula yang terluka. Mungkin ini karma untukku. Aku menyadari bahwa kamu satu-satunya pria yang aku cintai. Tapi aku tak ingin merusak kebahagiaanmu sekarang. Semoga kamu bahagia ya disana, oh iya selamat atas keberhasilanmu. Semoga kamu bisa mendapatkan istri yang baik, bukan penghianat seperti aku. Selamat tinggal Dito.
Hai Dito. Apa kabar? Sebelumnya aku minta maaf karena telah melukaimu. Sekarang aku pula yang terluka. Mungkin ini karma untukku. Aku menyadari bahwa kamu satu-satunya pria yang aku cintai. Tapi aku tak ingin merusak kebahagiaanmu sekarang. Semoga kamu bahagia ya disana, oh iya selamat atas keberhasilanmu. Semoga kamu bisa mendapatkan istri yang baik, bukan penghianat seperti aku. Selamat tinggal Dito.
Setelah
mengirim pesan itu, Rina langsung mematikan telepon selulernya dan bergegas
menyiapkan barang-barangnya untuk berlibur. Ia meninggalkan telepon selulernya
karena ia ingin benar-benar menenangkan dirinya selama beberapa hari. Rina
berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapi karma yang di alaminya dan berharap
setelah pulang dari liburannya, ia akan kembali mampu menjalani hari-harinya
dengan baik.
Sesampainya
disana, Rina meletakkan barang-barangnya di penginapan dan bergegas naik ke
gunung. Tepat diatas gunung ia menjerit
sekuat tenaga menghilangkan semua kepenatan yang ada difikirannya. Namun
tiba-tiba ia mendengar suara yang tak asing lagi ditelinganya. Ternyata itu
suara Dito.
“Sudah puas
menjeritnya?” ujar Dito mengejutkan Rina dari belakang.
“Dito.......”
Rina memasang wajah bingung, sesekali menampar pipinya agar sadar itu mimpi
atau bukan.
“Aku sudah
memaafkanmu, aku tahu kamu akan sadar akan perbuatanmu, aku selalu berdoa untuk
keselamatanmu” sambung Dito.
Rina terdiam.
“Bagaimana
mungkin kamu menyangka aku akan bahagia dengan wanita lain selain dirimu?”
sambungnya lagi.
“Apa
maksudmu?” tanya Rina begitu bingung.
“Aku hanya
akan bahagia jika kamu yang menjadi pendamping hidupku, kita pacaran bukan
setahun dua tahun, kamu yang selalu menemani aku di saat susah, sekarang di
saat aku sudah senang apa kamu tidak ingin menemaniku?”
“Bukan aku
tidak ingin menemanimu, aku hanya tidak ingin kamu merasa bahwa aku kembali
padamu hanya karena uang. Biarkan aku seperti ini, biarkan dunia menghukumku
atas perbuatanku terhadapmu,”
“Selama empat
tahun hubungan kita, kamu hanya buat satu kesalahan. Sedangkan aku? Aku banyak
membuat kesalahan terhadapmu, aku belum bisa membahagiakanmu, selama dua tahun
berpacaran denganku, bukankah kau satu-satunya wanita yang rela jalan kaki
bersamaku sampai aku mempunyai sepeda motor sendiri untuk pertama kalinya? Kamu
ingat? Aku tak akan pernah lupa semua pengorbanmu terhadapku ketika aku susah,”
airmata Dito tak dapat lagi terbendung. Rina tak bisa menjawab apapun, ia hanya
ikut menangis bersama Dito. “Maukah kau menjadi istriku?” tanya Dito sambil
memegang kedua pipi Rina.
“Aku sudah
menghianatimu Dito, aku bukan wanita yang setia,”
“Maukah kau
menjadi istriku?” Dito mengulangi pertanyaannya lagi.
“Aku sudah
tega meninggalkanmu karena lelaki kaya, aku wanita jahat, aku tidak pantas
untukmu,” sahut Rina lagi.
“Aku hanya
bertanya padamu, maukah kamu menjadi istriku?”
“Aku mau Dito,
aku sangat mencintaimu.” Rina memeluk Dito dengan erat, mereka saling rindu
satu sama lain. Airmata bahagia mengalir dipipi mereka.
Begitulah
cinta, mampu menerima kekurangan satu lain dan mampu memaafkan kesalahan meski
kesalahan yang begitu menyakitkan. Kebahagiaan bukan diukur dari banyaknya uang
dan cinta tak mungkin berhenti hanya karena penghianatan nafsu belaka. Hubungan
tak selamanya berjalan mulus, ada lika-liku didalamnya. Memaafkan adalah cara
paling ampuh untuk memperbaiki cinta. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi
esok hari, untuk itu cinta harus pulang, karena cinta tahu kemana dia harus
kembali.
‘SELESAI’
Blog
post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana:
Cinta atau Uang? #KeputusanCerdas yang di selenggarakan oleh www.cekaja.com
dan Nulisbuku.com
