Jumat, 20 November 2015

CINTA HARUS PULANG



Setiap hubungan pasti memiliki banyak suka duka. Manusia di seluruh muka bumi ini pasti memiliki banyak rintangan juga kejutan-kejutan istimewa dalam suatu hubungan, baik hubungan keluarga, hubungan pertemanan maupun hubungan percintaan. Tak ada yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi di keesokan hari. Itulah yang terjadi pada Rina, Rina adalah seorang mahasiswi fakultas ekonomi di salah satu universitas yang ada di kota Medan dan sedang menjalani semester akhir. Selain berkuliah, Rina juga bekerja di sebuah toko kue yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Sudah 3 tahun lamanya ia menjalin cinta dengan seorang pria bernama Dito, mahasiswa fakultas psikologi dan bekerja sebagai cleaning servis di salah satu mall ternama.
            Tak akan ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi di hari-hari berikutnya. 3 tahun lamanya menjalin hubungan percintaan bukanlah hal yang sulit bagi pasangan Rina dan Dito. Mereka menjalani hari-hari mereka dengan penuh canda tawa, mereka selalu berbagi suka dan duka. Meski pekerjaan kekasihnya tak seperti yang lain tak jadi halangan bagi Rina, Rina selalu menerima Dito karena baginya Dito mampu memberikan kebahagiaan pada dirinya, iapun selalu berjanji akan selalu menemani Dito sampai ia sukses dikemudian hari.
            Tak pernah terbesit sedikitpun di hati Rina untuk mencari pria lain hingga akhir sarjana. Setelah wisuda berakhir Rina tak lagi bekerja di toko kue dan Dito masih bekerja di tempat lamanya, Rina dan Dito merintis usaha mereka yang dinamai “Rindi Bakery”. Meski sedang merintis usaha, Rina tak terlalu memprioritaskan toko kue mereka, ia tetap mencari pekerjaan di perusahaan. Sedangkan Dito sibuk merintis toko mereka sembari masih bekerja dan terkadang mengisi acara-acara motivasi di berbagai tempat untuk menambah modal toko kue mereka.
            2 bulan berlalu, akhirnya Rina mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan property dan menjabat sebagai administrasi kantor. Karena saling sibuk satu sama lain, mereka jadi jarang bertemu dan Rina tak lagi melihat perkembangan usaha mereka. Di kesibukan yang semakin padat, Rina sering pulang bersama Beny, manajernya. Setiap siang Rina dan Beny sering makan bersama, bercanda tawa bahkan Beny seringkali memberikan hadiah kepada Rina. Terpesonalah Rina dengan pesona beny yang begitu tampan dan gaya yang sangat menggoda hati para wanita.
            “Saya antar pulang ya!” ajak Beny pada Rina.
            “ Tidak usah pak, saya bisa pulang sendiri kok,” jawab Rina menolak.
            “Gak baik lho gadis secantik kamu ini pulang sendiri, mari saya antar.” ajak Beny lagi sembari menarik manja tangan Rina masuk ke dalam mobilnya.
Rina yang tersipu malu tak dapat menolak ajakan Beny dan mengikuti ajakan manajer tampan itu. Di malam hari ditemani bintang-bintang dan bulan sabit mewakili perasaannya. Ia merasa bahwa ia telah jatuh cinta dengan manajernya itu. Setiap malam mereka berkirim-kirim pesan, foto bahkan suara-suara mereka lewat aplikasi Blackberry Messanger hingga ia enggan membalas pesan dari Dito yang sangat merindukannya. Rina begitu terbuai oleh sikap dan pesona Beny, ia sangat bahagia menerima semua hadiah pemberian Beny sampai ia lupa pada Dito.
Sebulan berlalu, hubungan Rina dan Dito semakin jauh dan tak lagi mesra seperti selama 4 tahun terakhir. Manajer Rina yang selalu ada untuk Rina pun mencoba mencuri hatinya. Meski ia tahu bahwa Rina sudah memiliki pacar namun ia tak berhenti untuk mengejar hati Rina. Berbagai cara ditempuhnya bahkan cara yang buruk sekalipun.
“Saya tau kamu sudah punya pacar, tapi bukankah pacarmu itu belum mapan seperti saya?” kata Beny.
“Saya tau pak, tapi apa yang bisa saya lakukan?” jawab Rina dengan polosnya.
“Tinggalkan saja dia Rin, saya janji akan membuatmu bahagia, saya akan selalu ada untukmu. Saya mapan Rin, saya bisa beri segalanya untukmu, saya juga akan menikahimu secepatnya,” sambung Beny dengan janji-janji manisnya.
“Benarkah? Apa bapak mencintai saya?” sahut Rina lagi dengan wajah yang begitu serius.
“Tentu saja, saya sangat mencintaimu, kamu mau jadi pacar saya?” Beny mulai menggenggam tangan Rina dengan begitu romantisnya.
Malam itu berakhir dengan bunga cinta di hati Rina, kenangan tentang Dito tersingkir oleh pesona Beny. Di malam itu juga Rina memutuskan Dito dengan pesan singkat dari aplikasi BBMnya.
Rina
aku mau kita putus!
Dito
jangan gitu dong sayang, maaf ya aku jarang ada buat kamu, besok kita ketemu yah, ada yang mau aku omongin sama kamu.
Rina
Lupain aku Dito, aku gak bisa lagi sama kamu, aku udah bahagia sama oranglain, orang yang lebih kaya dari kamu. Jadi lupain aku!
Dito
Hanya karena kekayaan kamu ninggali aku? Kamu lupa sama janji kita? Apa gak bisa kita bicarakan baik-baik hubungan kita? Kenapa langsung bertindak seperti ini?
Rina
sudahlah, lupakan aku.
            Seperti gemuruh petir menyambar habis hati Dito, Dito yang selama ini berusaha untuk merintis usaha “Rindi bakery” malah ditinggalkan begitu saja oleh Rina. Rina begitu gegabah dalam mengambil keputusan, ia begitu terbuai dengan kekayaan dan ketampanan Beny. Bahkan tak sekalipun ia memikirkan perasaan Dito yang hangus karena ulahnya dan tak pernah lagi membantu Dito dalam merintis usahanya. Ia bahkan lupa bahwa ia juga bagian dari “Rindi bakery” dan ia begitu lupa semua kisah-kisah tentangnya bersama Dito.
            3 bulan berlalu, Beny mulai tak perhatian lagi terhadap Rina. Rina begitu sedih dan sering murung di kantor bahkan ia tak berkonsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaannya. Seringkali Beny meninggalkan Rina pulang sendiri bahkan Beny sering lupa dengan janji untuk jalan bersama dengan alasan yang tak pernah masuk akal. Beny tak pernah lagi memberikan hadiah ataupun kejutan istimewa pada Rina. Entah apa yang terjadi, Rina samasekali tak mengerti.
            Di keheningan malam, tiba-tiba saja Rina merindukan Dito, sesekali ia melihat gambar Dito yang masih tersimpan rapi di album foto miliknya. Begitu banyak gambar mereka di album foto Rina, begitu kental kian menyiksa rindu yang ada di hati Rina. Kenangan tentang Dito mulai menyelinap kembali di kepala Rina. Di mulai dari pertama jatuh cinta pada Dito bahkan pahit manis menjalani cinta kasih bersama Dito. Di balik bayang-bayang Dito yang selalu menghantuinya, bayang-bayang Beny juga menyelinap dikepala Rina, ia masih saja bingung apa yang terjadi pada Beny.
            Langit gelap malam berubah menjadi terang dan terik seperti hendak membakar tubuh. Rina membuat janji dengan Beny di sebuah cafe, dengan langkah gontai Rina mulai memasuki cafe tempat yang mereka janjikan. Betapa terkejutlah Rina dengan penampakan yang ada di hadapannya. Ia melihat Beny bercumbu mesra dengan dua gadis berpakaian mini di dalam cafe itu. Begitu kecewa hati Rina terhadap Beny.
            “Jadi selama ini kamu selingkuh?” tanya Rina dengan wajah kecewanya.
            “Baguslah kalau kamu sudah tau, kamu fikir aku mau bersama orang yang sok polos seperti kamu? Kamu kira aku tahan sama cewek kayak kamu itu,” jawab sadis Beny dengan wajah bengisnya.
            “Maksud kamu apa?” Rina mengerutkan dahinya.
            “Aku tidak tahan dengan prinsipmu itu, berciuman saja kamu tidak mau, bagaimana mungkin aku bisa berlama-lama berpacaran denganmu, wanita sok suci! Sudah pergi saja sana sama mantanmu itu, hahaha, oh iya mana mungkin dia mau lagi denganmu, wanita penghianat! Rupanya kau bisa dibeli dengan uang,” sambung Beny mengejek.
            “Jaga mulutmu! Pria gila!” sahut Rina sambil menyiramkan air di wajah Beny dan pergi dari cafe itu. Beny hanya tertawa dengan kedua wanitanya.
            Tepat di dalam kamar, tiba-tiba kotak musik pemberian Dito berbunyi dan mulai bernyanyi “happy anniversary”, Rina terkejut sekali, ia baru ingat bahwa hari ini adalah hari jadinya yang keempat tahun bersama Dito. Rina menangis sejadi-jadinya, ia begitu menyesal telah meninggalkan Dito dan memilih laki-laki lain yang buruk. Ia sadar bahwa hanya Dito yang mampu menerima prinsip Rina, ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa menangis dan membiarkan kotak musik itu bernyanyi hingga pagi hari.
            Di kantor, Rina begitu cepat menyelesaikan tanggung jawabnya dan menyiapkan surat pengunduran dirinya. Ia begitu mantap untuk mengundurkan diri dan bergegas meninggalkan kantor tempat ia bekerja selama 6 bulan. Teman dekat Rina di kantor menanyakan apa yang telah terjadi pada Rina sehingga ia bertekad untuk mengundurkan diri dari kantor, dengan wajah sedih dan airmata yang tak berhenti mengalir, Rina mulai menceritakan apa yang tengah terjadi padanya. Teman Rina yang mendengar cerita itupun turut sedih dengan semua yang terjadi pada Rina. Ia lalu menyarankan pada Rina untuk meminta maaf pada Dito dan mencoba membuka lembaran baru untuk kisah cinta mereka. Rina tersenyum kembali mendengar respon temannya itu, ia berterimakasih dan bergegas menemui Dito di toko kue “Rindi bakery”.
            Sesampainya di toko kue itu, terkejutlah Rina melihat toko kue itu berubah menjadi lebih besar. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam toko itu dan bergegas pulang kerumahnya. Ia juga takut kalau Dito akan mengejeknya ketika tahu ia telah dikhianati oleh Beny, ia juga tak ingin Dito menyangka bahwa ia hanya datang pada Dito ketika usahanya mulai berkembang dan di cap sebagai wanita materialistis. Rina memilih pergi berlibur ke Gunung Sibayak karena begitu penat dengan semua yang di alaminya. Sebelum ia pergi ia menulis pesan pada Dito lewat aplikasi BBMnya.
Rina
Hai Dito. Apa kabar? Sebelumnya aku minta maaf karena telah melukaimu. Sekarang aku pula yang terluka. Mungkin ini karma untukku. Aku menyadari bahwa kamu satu-satunya pria yang aku cintai. Tapi aku tak ingin merusak kebahagiaanmu sekarang. Semoga kamu bahagia ya disana, oh iya selamat atas keberhasilanmu. Semoga kamu bisa mendapatkan istri yang baik, bukan penghianat seperti aku. Selamat tinggal Dito.
            Setelah mengirim pesan itu, Rina langsung mematikan telepon selulernya dan bergegas menyiapkan barang-barangnya untuk berlibur. Ia meninggalkan telepon selulernya karena ia ingin benar-benar menenangkan dirinya selama beberapa hari. Rina berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapi karma yang di alaminya dan berharap setelah pulang dari liburannya, ia akan kembali mampu menjalani hari-harinya dengan baik.
Sesampainya disana, Rina meletakkan barang-barangnya di penginapan dan bergegas naik ke gunung.  Tepat diatas gunung ia menjerit sekuat tenaga menghilangkan semua kepenatan yang ada difikirannya. Namun tiba-tiba ia mendengar suara yang tak asing lagi ditelinganya. Ternyata itu suara Dito.
“Sudah puas menjeritnya?” ujar Dito mengejutkan Rina dari belakang.
“Dito.......” Rina memasang wajah bingung, sesekali menampar pipinya agar sadar itu mimpi atau bukan.
“Aku sudah memaafkanmu, aku tahu kamu akan sadar akan perbuatanmu, aku selalu berdoa untuk keselamatanmu” sambung Dito.
Rina terdiam.
“Bagaimana mungkin kamu menyangka aku akan bahagia dengan wanita lain selain dirimu?” sambungnya lagi.
“Apa maksudmu?” tanya Rina begitu bingung.
“Aku hanya akan bahagia jika kamu yang menjadi pendamping hidupku, kita pacaran bukan setahun dua tahun, kamu yang selalu menemani aku di saat susah, sekarang di saat aku sudah senang apa kamu tidak ingin menemaniku?”
“Bukan aku tidak ingin menemanimu, aku hanya tidak ingin kamu merasa bahwa aku kembali padamu hanya karena uang. Biarkan aku seperti ini, biarkan dunia menghukumku atas perbuatanku terhadapmu,”
“Selama empat tahun hubungan kita, kamu hanya buat satu kesalahan. Sedangkan aku? Aku banyak membuat kesalahan terhadapmu, aku belum bisa membahagiakanmu, selama dua tahun berpacaran denganku, bukankah kau satu-satunya wanita yang rela jalan kaki bersamaku sampai aku mempunyai sepeda motor sendiri untuk pertama kalinya? Kamu ingat? Aku tak akan pernah lupa semua pengorbanmu terhadapku ketika aku susah,” airmata Dito tak dapat lagi terbendung. Rina tak bisa menjawab apapun, ia hanya ikut menangis bersama Dito. “Maukah kau menjadi istriku?” tanya Dito sambil memegang kedua pipi Rina.
“Aku sudah menghianatimu Dito, aku bukan wanita yang setia,”
“Maukah kau menjadi istriku?” Dito mengulangi pertanyaannya lagi.
“Aku sudah tega meninggalkanmu karena lelaki kaya, aku wanita jahat, aku tidak pantas untukmu,” sahut Rina lagi.
“Aku hanya bertanya padamu, maukah kamu menjadi istriku?”
“Aku mau Dito, aku sangat mencintaimu.” Rina memeluk Dito dengan erat, mereka saling rindu satu sama lain. Airmata bahagia mengalir dipipi mereka.
Begitulah cinta, mampu menerima kekurangan satu lain dan mampu memaafkan kesalahan meski kesalahan yang begitu menyakitkan. Kebahagiaan bukan diukur dari banyaknya uang dan cinta tak mungkin berhenti hanya karena penghianatan nafsu belaka. Hubungan tak selamanya berjalan mulus, ada lika-liku didalamnya. Memaafkan adalah cara paling ampuh untuk memperbaiki cinta. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari, untuk itu cinta harus pulang, karena cinta tahu kemana dia harus kembali.


SELESAI

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta atau Uang? #KeputusanCerdas yang di selenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Selasa, 08 September 2015

Untuk seorang yang sudah menghancurkan hubunganku.

Hai kamu.
Kamu ingat pertama kali kita bertemu, ya saat itu aku telah menyukai indah paras dan senyummu.
Kamu tau berapa lama aku mencoba memahamimu dan memahami apa sebenarnya yang aku rasakan terhadap dirimu.
Perlahan, aku mencoba mendekatimu. Walau pada akhirnya tak sedikitpun kau menoleh padaku.
Tapi disisi lain ..
Ada seorang yang baru datang di kehidupanku, memberiku senyum yang tak terhingga dengan segala macam canda dan tawanya.
Dia yang selalu menghiburku di kala aku sedih.
Dia yang selalu mendukungku dan berusaha agar kamu paham atas perasaanku.
Dia yang percaya bahwa suatu hari nanti kamu pasti bisa mencintaiku.
Bertahun-tahun ku rasakan perasaan yang tak bisa ku pahami hingga akhirnya aku tahu bahwa kamu tak pernah suka padaku.
Dan bertahun-tahun pula dia slalu ada menemani hari-hariku.
Kamu tau? Sejak ada dia duniaku berubah. Dan akhirnya persahabatanku dengannya berubah menjadi sepasang kekasih.
Setiap hari dia selalu menghiburku dan tak pernah sekalipun melukaiku.
Dia selalu membantuku bukan hanya memberikan motivasi padaku.
Suatu hari tiba-tiba kamu datang mendekatiku.
Aku masih merasa baik-baik saja.
Setiap hari kamu mengantarku pulang dan mengajakku jalan-jalan.
Betapa bodohnya aku mau mengikuti ajakanmu.
Dia disana tidak pernah merasa ada yang berbeda dengan kita dan akupun merasa bahwa kamu masih menganggapku teman biasa.
Semua ku rasa baik-baik saja sebelum kamu datang melamarku di hadapan banyak orang.
Di hadapan banyak orang tepat di hari ulangtahunku pula kamu melamarku.
Aku rasa semua akan baik-baik saja, aku menolakmu dan memilih untuk bersahabat saja denganmu.
Aku tak menyalahkanmu akan hal ini, entah siapa yang tega memotret gambar kita saat itu dan memberinya pada kekasihku.
Kamu tahu saat itu aku sangat mencintai kekasihku.
Aku sangat menunggunya untuk melamarku.
Sejak kejadian itu, aku tak pernah bisa menghubunginya lagi sampai aku tahu alasan mengapa dia tiba-tiba meninggalkanku.
Berkali-kali aku mencoba untuk menghubunginya.
Tapi tak pernah bisa.
Aku tak menyalahkannya tak mempercayaiku.
Karena mungkin bila aku di posisinya, aku juga akan sangat kecewa.
Di kedua gambar potret itu aku sedang tersenyum di kala kamu memberiku kejutan berupa kue dihadapan orang banyak.
Tapi faktanya aku hanya senang di beri kejutan, bukan berarti aku mencintaimu.
Potret yang kedua di kala kamu memberiku cincin untuk melamarku yang faktanya wajah bingungku hanya menunjukkan bahwa aku bingung atas perbuatanmu.
Aku tak menyalahkannya meninggalkanku.
Mungkin dia mengira aku dan kamu sudah mengkhianati kepercayaannya karena sebelumnya kita sangat dekat sekali.
Bertahun-tahun aku mencari dirinya, berkali-kali aku mencoba menulisinya surat, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi..
Aku tak tahu dimana tujuan surat yang akan ku kirimkan padanya.
Aku sudah benar-benar kehilangan jejaknya.
Kini aku sudah berumur 29 tahun.
Terakhir aku berkomunikasi dengannya umur 25 tahun.
Berarti sudah 4 tahun aku tak bertemu dengannya dan kamu sudah menikah 2 tahun yang lalu.
Dan selama itupun tak ada yang bisa menggantikannya dalam hatiku.
Dan pada akhirnya aku bertemu dengannya kembali.
Kamu fikir aku bahagia?
Kamu fikir aku akan menikah dengannya?
Tidak, kamu salah.
Justru dia datang bersama wanita lain.
Dia memberiku surat undangan pernikahannya.
Dia mengundangku dengan sejuta senyum bahagia.
Kamu tahu betapa hancurnya hatiku?
Dan bagaimana mungkin aku menjelaskan kejadian 4 tahun lalu.
Andaikata dia tahu, dia pasti akan tetap memilih wanita itu.
Karena aku tak ada lagi dalam hatinya, yang ada hanya wanita itu.
Sekarang, apa yang harus kulakukan lagi?
Bagaimana mungkin aku menghancurkan kebahagiaannya dan wanita itu.
Kamu tahu betapa rapuhnya aku saat ini?
Kini aku bagai tak bernyawa lagi.
Aku tak tahu apa lagi yang bisa mengobati hatiku.
Aku rapuh sekali, apa pernah kamu tahu?
Ingin sekali rasanya menggagalkan pernikahannya.
Ingin sekali rasanya ku obrak abrik pesta pernikahannya itu.
Mudah saja untuk mengatakan pada semua orang bahwa aku sangat dan sangat mencintainya.
Tapi..
Sebab aku mencintainyalah maka aku tak pernah berani melenyapkan senyumnya.
Senyum yang dulu aku nikmati kini dinikmati oleh oranglain yang sah menjadi istrinya.
Lalu bagaimana denganku?
Begitu banyak memang pria lain yang menghampiriku.
Namun tak ada satupun yang dapat mencintaiku seperti cintanya yang dulu.
Tak ada yang bisa menggantikannya dalam hati dan kehidupanku.

Ya, yang harus kamu tahu saat ini.
Aku sangat rapuh akibat ulahmu dulu.
Walau kini mau tak mau aku harus meyakinkan diriku bahwa dia bukan jodohku.
Bahwa mungkin dengan begitu dia mampu untuk meninggalkanku dan menemukan jodohnya.
Mungkin dengan ini jalannya.
Dengan membuat aku yang terluka.
Lukanya mungkin tidak sepedih lukaku karena yang dia rasakan tidak seperti apa yang terjadi.
Andai dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Andai dulu dia tak pergi meninggalkanku begitu saja.
Ingin sekali aku mengatakannya, sangat ingin sekali.
Maaf aku telah mengganggumu.
Hanya saja pedih ini tak bisa ku simpan lebih lama lagi.
Aku hanya bisa berbagi pedih ini denganmu.
Dan tak mungkin dia ku beri tahu.
Baiklah, terimakasih atas semua yang pernah kamu lakukan padaku.
Selamat tinggal.



"8 September 2015" by Yunizara Pangaribuan.