Untuk seorang yang sudah menghancurkan hubunganku.
Hai kamu.
Kamu ingat pertama kali kita bertemu, ya saat itu aku telah menyukai indah paras dan senyummu.
Kamu tau berapa lama aku mencoba memahamimu dan memahami apa sebenarnya yang aku rasakan terhadap dirimu.
Perlahan, aku mencoba mendekatimu. Walau pada akhirnya tak sedikitpun kau menoleh padaku.
Tapi disisi lain ..
Ada seorang yang baru datang di kehidupanku, memberiku senyum yang tak terhingga dengan segala macam canda dan tawanya.
Dia yang selalu menghiburku di kala aku sedih.
Dia yang selalu mendukungku dan berusaha agar kamu paham atas perasaanku.
Dia yang percaya bahwa suatu hari nanti kamu pasti bisa mencintaiku.
Bertahun-tahun ku rasakan perasaan yang tak bisa ku pahami hingga akhirnya aku tahu bahwa kamu tak pernah suka padaku.
Dan bertahun-tahun pula dia slalu ada menemani hari-hariku.
Kamu tau? Sejak ada dia duniaku berubah. Dan akhirnya persahabatanku dengannya berubah menjadi sepasang kekasih.
Setiap hari dia selalu menghiburku dan tak pernah sekalipun melukaiku.
Dia selalu membantuku bukan hanya memberikan motivasi padaku.
Suatu hari tiba-tiba kamu datang mendekatiku.
Aku masih merasa baik-baik saja.
Setiap hari kamu mengantarku pulang dan mengajakku jalan-jalan.
Betapa bodohnya aku mau mengikuti ajakanmu.
Dia disana tidak pernah merasa ada yang berbeda dengan kita dan akupun merasa bahwa kamu masih menganggapku teman biasa.
Semua ku rasa baik-baik saja sebelum kamu datang melamarku di hadapan banyak orang.
Di hadapan banyak orang tepat di hari ulangtahunku pula kamu melamarku.
Aku rasa semua akan baik-baik saja, aku menolakmu dan memilih untuk bersahabat saja denganmu.
Aku tak menyalahkanmu akan hal ini, entah siapa yang tega memotret gambar kita saat itu dan memberinya pada kekasihku.
Kamu tahu saat itu aku sangat mencintai kekasihku.
Aku sangat menunggunya untuk melamarku.
Sejak kejadian itu, aku tak pernah bisa menghubunginya lagi sampai aku tahu alasan mengapa dia tiba-tiba meninggalkanku.
Berkali-kali aku mencoba untuk menghubunginya.
Tapi tak pernah bisa.
Aku tak menyalahkannya tak mempercayaiku.
Karena mungkin bila aku di posisinya, aku juga akan sangat kecewa.
Di kedua gambar potret itu aku sedang tersenyum di kala kamu memberiku kejutan berupa kue dihadapan orang banyak.
Tapi faktanya aku hanya senang di beri kejutan, bukan berarti aku mencintaimu.
Potret yang kedua di kala kamu memberiku cincin untuk melamarku yang faktanya wajah bingungku hanya menunjukkan bahwa aku bingung atas perbuatanmu.
Aku tak menyalahkannya meninggalkanku.
Mungkin dia mengira aku dan kamu sudah mengkhianati kepercayaannya karena sebelumnya kita sangat dekat sekali.
Bertahun-tahun aku mencari dirinya, berkali-kali aku mencoba menulisinya surat, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi..
Aku tak tahu dimana tujuan surat yang akan ku kirimkan padanya.
Aku sudah benar-benar kehilangan jejaknya.
Kini aku sudah berumur 29 tahun.
Terakhir aku berkomunikasi dengannya umur 25 tahun.
Berarti sudah 4 tahun aku tak bertemu dengannya dan kamu sudah menikah 2 tahun yang lalu.
Dan selama itupun tak ada yang bisa menggantikannya dalam hatiku.
Dan pada akhirnya aku bertemu dengannya kembali.
Kamu fikir aku bahagia?
Kamu fikir aku akan menikah dengannya?
Tidak, kamu salah.
Justru dia datang bersama wanita lain.
Dia memberiku surat undangan pernikahannya.
Dia mengundangku dengan sejuta senyum bahagia.
Kamu tahu betapa hancurnya hatiku?
Dan bagaimana mungkin aku menjelaskan kejadian 4 tahun lalu.
Andaikata dia tahu, dia pasti akan tetap memilih wanita itu.
Karena aku tak ada lagi dalam hatinya, yang ada hanya wanita itu.
Sekarang, apa yang harus kulakukan lagi?
Bagaimana mungkin aku menghancurkan kebahagiaannya dan wanita itu.
Kamu tahu betapa rapuhnya aku saat ini?
Kini aku bagai tak bernyawa lagi.
Aku tak tahu apa lagi yang bisa mengobati hatiku.
Aku rapuh sekali, apa pernah kamu tahu?
Ingin sekali rasanya menggagalkan pernikahannya.
Ingin sekali rasanya ku obrak abrik pesta pernikahannya itu.
Mudah saja untuk mengatakan pada semua orang bahwa aku sangat dan sangat mencintainya.
Tapi..
Sebab aku mencintainyalah maka aku tak pernah berani melenyapkan senyumnya.
Senyum yang dulu aku nikmati kini dinikmati oleh oranglain yang sah menjadi istrinya.
Lalu bagaimana denganku?
Begitu banyak memang pria lain yang menghampiriku.
Namun tak ada satupun yang dapat mencintaiku seperti cintanya yang dulu.
Tak ada yang bisa menggantikannya dalam hati dan kehidupanku.
Ya, yang harus kamu tahu saat ini.
Aku sangat rapuh akibat ulahmu dulu.
Walau kini mau tak mau aku harus meyakinkan diriku bahwa dia bukan jodohku.
Bahwa mungkin dengan begitu dia mampu untuk meninggalkanku dan menemukan jodohnya.
Mungkin dengan ini jalannya.
Dengan membuat aku yang terluka.
Lukanya mungkin tidak sepedih lukaku karena yang dia rasakan tidak seperti apa yang terjadi.
Andai dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Andai dulu dia tak pergi meninggalkanku begitu saja.
Ingin sekali aku mengatakannya, sangat ingin sekali.
Maaf aku telah mengganggumu.
Hanya saja pedih ini tak bisa ku simpan lebih lama lagi.
Aku hanya bisa berbagi pedih ini denganmu.
Dan tak mungkin dia ku beri tahu.
Baiklah, terimakasih atas semua yang pernah kamu lakukan padaku.
Selamat tinggal.
"8 September 2015" by Yunizara Pangaribuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar